Hari – hari ini siswa – siswa di tingkat akhir di SD, SMP , maupun SMA tengah bergumul dalam perjuangan yang akan menetukan satu tonggak penting dalam hidup mereka. Ujian nasional, ujian yang punya dominasi peran yang sangat tinggi , bahkan absolut itu, telah membuat para siswa – siswa kita berjuang mati – matian untuk lulus. Tentunya kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh para siswa saja. Orang tua yang telah bekerja keras untuk membiayai pendidikkan putra – putri mereka tentu tidak ingin melihat kerja keras mereka sia – sia. Namun, bukan hanya siswa dan orang tua saja yang jantungnya serasa copot menghadapi ujian ini. Sekolah, sebagai lembaga dimana para siswa belajar , mungkin merasakan kepanikkan yang lebih parah dari orang tua maupun siswa sendiri. Hal ini tentunya masuk akal karena lembaga sekolahlah yang akan merasa bangga bila dapat meluluskan siswa mereka seratus persen. Namun lembaga sekolah juga yang akan merasakan pedihnya ketika sebagian besar siswa mereka tidak bisa lolos dalam ujian tersebut.
Archive for April, 2008
Sekolah dan Ujian Nasional : Sebuah Ironi Lembaga Pendidikkan
April 30, 2008Ekaristi atau yang lain?
April 28, 2008
Cukup kentara terasa bahwa saat – saat ini terdapat kecenderungan yang cukup menonjol di antara kaum muda Katolik dimana mereka merasa “jenuh” dengan Perayaan Ekaristi yang menurut pendapat mereka terasa membosankan dan membuat ngantuk. Seringkali alasan yang mereka ungkapkan berkisar pada seputar lagu – lagu yang membosankan dan tidak menggugah perasaan. Belum lagi bila homili yang diberikan Romo terasa sama keringnya seperti susunan lituginya yang lama dan begitu – begitu saja. Akibatnya, tidak sedikit yang berpaling pada bentuk – bentuk persekutuan doa dengan lagu – lagu rohani populer yang lebih menggugah perasaan serta kotbah yang berapi – api dan tidak membuat ngantuk. Lebih jauh lagi, tidak sedikit juga yang akhirnya tidak kembali ke gereja Katolik setelah diajak teman – teman yang lain untuk bersekutu di tempat lain dimana mereka bisa mengangis, terkekeh – kekeh, menari – nari, ataupun berlari – lari.
Finding God in all things
April 21, 2008
Banyak hal yang terjadi dalam hidup, ada kejadian kehidupan yang besar dan menetukan, namun tidak jarang ada juga sisi yang kecil dan terasa tak berarti. Kejadian kehidupan itu datang dan pergi silih berganti mewarnai hidup ini sehingga menjadi dinamis bahkan kadang tidak stabil. Namun, ternyata, dengan refleksi dan keterbukaan hati, satu persatu kejadian dalam hidup ini ternyata punya arti. Bahkan kadang – kadang dengan permenungan yang mendalam, kita bisa menemukan Tuhan dalam berbagai kejadian kehidupan kita. Hal ini, secara tidak sengaja, saya temukan dalam perjalanan hidup saya.
Ketika beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran pekerjaan yang sebetulnya bukan kewajiban utama saya, dua arus besar seperti mewarnai batin saya. Tawaran pekerjaan itu, apabila saya menjawab sanggup, maka konsekuensi yang akan terjadi sangat jelas, yaitu bertambahnya pekerjaan secara luar biasa, tanpa imbalan yang cukup berarti. Namun, di sisi lain, jika saya menyatakan sanggup, kemungkinan besar hal itu akan bisa membawa dampak yang cukup positif bagi orang – orang di sekitar saya. Saat itu, saya tidak tahu pasti apa yang mendorong saya menyatakan sanggup, namun saat ini, saya memaknai hal itu sebagai kehendak Tuhan sendiri, disinilah saya menemukan Tuhan.