Siang itu hari Jum’at pukul dua belas kurang seperempat. Matahari bulan Juli tengah terik – teriknya membakar bumi. Nafasku tersengal – sengal , kaki – kakiku sudah mulai terasa sakit. Namun, tetap saja kupaksakan memutar pedal sepeda. Keringat yang sejak tadi bercucuran kubiarkan saja mengalir. Iya, hari Jum’at ini aku pergi ke sekolah naik sepeda, dan ternyata itu bukan pilihan yang terlalu bagus karena jam pulang pada hari jum’at justru saat mentari tepat membakar di atas kepala. Jadi selain jalan pulang yang menanjak, aku juga harus menahan panasnya sang surya yang sejak dari sekolah di SMAN I Bringin tadi sudah tak henti menyengat kulit. Jadi makin hitam nih aku ujarkuku dalam hati. Namun, Sebentar lagi sampai rumah pikirku. Tapi, semua tentu saja tahu rumahku. Sebelum sampai, aku harus melewati tanjakkan yang bahkan dengan jalan kaki saja lemasnya minta ampun, apalagi genjot sepeda????? Aku berfikir, aku harus sampai di rumah, dan jalan satu – satunya untuk sampai di rumah adalah menghadapi tanjakkan itu, tidak ada cara lain…………………tanjakkan itu harus dihadapi baru setelah itu aku bisa sampai di rumah. Akhirnya kubulatkan tekadku untuk terus memutar pedal bahkan dengan nafas yang terus putus – putus aku lanjutkan kayuhanku. Aku terus berkata pada diriku sedikit lagi…………sedikit lagi………….sedikit lagi…………sedikit lagi………..itu rumah kesayangan sudah kelihatan…….ayo sedikit lagi………………sedikit lagi…………..dan tanpa terasa tanjakkan yang menjulang itu bisa kulewati. Nafsku memburu, namun dibalik kelelahan itu ada kepuasan dan kelegaan…….akhirnya sampai rumah juga.
Sambil istirahat aku berpikir, kira – kira apa yang terjadi jika aku berhenti saja dan tidak meneruskan kayuhan sepedaku. Tentu saja, aku tidak akan sampai rumah. Seperti itulah juga kehidupan. Dalam hidup kita juga punya tujuan yang ingin kita capai, dan di jalan mencapai tujuan tentu saja banyak hal akan menghalangi kita. Namun jika kita memilih untuk lari dari halangan itu atau malah berhenti, kita tahu kita tidak akan pernah sampai di tujuan itu. Sikap hidup yang tak pernah patah semangat mengejar cita – cita tentu akan cepat atau lambat mengantar kita ke tujuan kita, namun sikap hidup melarikan diri atau malah berhenti dari perjuangan akan membuat kita orang – orang yang kalah.
Teringat hal itu, aku teringat juga pada dua orang muridku yang di pelajaranku tadi melarikan diri entah kemana padahal di jam sebelumnya kata teman – temannya mereka ada. Aku tidak marah kepada mereka, namun malah sebersit rasa kasihan muncul di benakku. Aku kasihan kepada mereka karena tanpa mereka sadari mereka telah memupuk sikap hidup yang kalah. Mereka memilih melarikan diri dari jalan perjuangan. Sikap dan pilihan hidup seperti itu, jika diteruskan , akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya akan menjadi sifat maupun karakter kita. Sehingga tanpa terasa, kita telah membuat jalur kegagalan untuk diri kita sendiri. Mau?
Saya percaya, kita tidak ingin menjadi orang – orang yang kalah, saya percaya kita ingin mencapai cita – cita kita dan meraih kesuksesan dalam hidup. Karena itu, jangan melarikan diri dari persoalan dan tantangan, apapun itu hadapi dan terus jalani, dengan doa dan karya nyata, Pasti Tuhan akan memberikan berkatNya……………ORA ET LABORA.
![How-To-Climb-Hillson-a-Mountain-Bike-Veteran-Training-Triathlon-Training[7]](http://genjus.files.wordpress.com/2011/08/how-to-climb-hillson-a-mountain-bike-veteran-training-triathlon-training72.jpg?w=291&h=300)
August 3, 2011 at 4:28 am |
hidup juga suatu pilihan.berjuang untuk menang atau kalah.bagaimana misal sepeda yang mister kayuh ternyata rantainya putus di tengah tanjakan?
August 3, 2011 at 10:32 am |
Yah paling tidak walaupun kita kalah, kita sudah berjuang. Ada kemungkinan menang kalo terus berjuang, tapi tanpa perjuangan hanya kekalahan yang menjadi kepastian. Rantai putus???? Tanda – tanda harus beli sepeda baru……..he..he….he….he peace!!!!!!