Tendangan Upacara

November 18, 2012

“Bendera, … Siap”

“Kepada, Sang Merah Putih, hormat graaaak”

Dan suasanapun menjadi hening, lagu Indonesia Raya mengalun cukup keras dan kompak,tangan-tanganpun lantas terangkat memberi hormat.Akupun menghormat, dan tatapanku mengikuti bendera yang perlahan naik seirama dengan tarikkan harmonis para pengibar. Namun, tiba – tiba di  barisan kelas XI, ada dua anak tampak terkekeh tertawa –tawa, tanpa mengangkat tangan tanda hormat. Emosiku menggelegak.  Aku hampiri mereka dari belakang, dan secepat yang aku bisa lakukan, kulayangkan tendanganku mengenai kaki – kaki mereka.Mereka terhuyung hampir jatuh, dan berbalik, namun ketika mengetahui siapa yang menendang, mereka segera berbalik lagi, mulut mereka segera terkunci dan tangan kanan mereka segera terangkat memberi hormat.

Sikapku berlebihan?Mungkin.Namun,……………

Read the rest of this entry »

Curhat Bapak Pemulung

November 17, 2012

 

Beberapa kali aku memandang bapak itu sambil meneguk air di botol aqua snack dari panitia.    Ia adalah seorang tua dengan wajahnya yang kusut dibawah terik mentari yang menyengat. Hingar bingar musik dangdut dengan liukan mengundang sang biduan tidak dihiraukannya.  Tanpa kenal lelah dipungutinya botol-botol aqua kosong yang dibuang pemiliknya.  Nafasku masih tersengal – sengal, dan kakiku masih pegal sehabis percobaan gagal mengejar pengendara Helios yang belakangan aku tahu adalah atlet yang baru pulang dari PON itu.  Sungguh tak kuduga bahwa peserta sepeda santai siang ini membludak,  makin tipis saja harapan untuk memboyong salah satu hadiah itu. Berharapnya sih dapet salah satu motor yang dipajang dipanggung itu, tapi…mimpi kali ye????

Perhatianku sejenak terlupakan dari sang bapak ketika si biduan dangdut mulai mendendangkan “ABG TUA”, masih dengan goyangan yang membuat ratusan goweser asyik melenggokan tubuh mereka.  Sedang asyik menikmati goyangan itu tiba – tiba. Read the rest of this entry »

Siang hari di Sebuah Tanjakkan

August 1, 2011

Siang itu hari Jum’at  pukul dua belas kurang seperempat.  Matahari bulan Juli tengah terik – teriknya membakar bumi.  Nafasku tersengal – sengal , kaki – kakiku sudah mulai terasa sakit. Namun, tetap saja kupaksakan memutar pedal sepeda. Keringat yang sejak tadi bercucuran kubiarkan saja mengalir. Iya, hari Jum’at ini aku pergi ke sekolah naik sepeda, dan ternyata itu bukan pilihan yang terlalu bagus karena jam pulang pada hari jum’at justru saat mentari  tepat membakar di atas kepala. Jadi selain jalan pulang  yang menanjak, aku juga harus menahan panasnya sang surya yang sejak dari sekolah di SMAN I Bringin tadi sudah tak henti menyengat kulit. Jadi makin hitam nih aku ujarkuku dalam hati. Namun, Sebentar lagi sampai rumah pikirku. Tapi, semua tentu saja tahu rumahku.  Sebelum sampai, aku harus melewati tanjakkan yang bahkan dengan jalan kaki saja lemasnya minta ampun, apalagi genjot sepeda????? Aku berfikir,  aku harus sampai di rumah, dan jalan satu – satunya untuk sampai di rumah adalah menghadapi tanjakkan itu, tidak ada cara lain…………………tanjakkan itu harus dihadapi baru setelah itu aku bisa sampai di rumah. Akhirnya kubulatkan tekadku untuk terus memutar pedal bahkan dengan nafas yang terus putus – putus aku lanjutkan kayuhanku. Aku terus berkata pada diriku sedikit lagi…………sedikit lagi………….sedikit lagi…………sedikit lagi………..itu rumah kesayangan sudah kelihatan…….ayo sedikit lagi………………sedikit lagi…………..dan tanpa terasa tanjakkan yang menjulang itu bisa kulewati. Nafsku memburu, namun dibalik kelelahan itu ada kepuasan dan kelegaan…….akhirnya sampai rumah juga.

Read the rest of this entry »

Duc in Altum : Refleksi Perjalanan Kami

August 23, 2010

Ketika awal kami memutuskan untuk menikah, ada perasaan yang kurang lebih mirip dengan apa yang dirasakan oleh para Rasul saat Yesus menyuruh mereka untuk bertolak ke tempat yang dalam dan meneberkan jala mereka (Luk 5:4). Keputus asan karena bekerja tanpa tangkapan sepanjang malam, membuat mereka meragukan perintah Tuhan tersebut.
Keraguan semacam itu juga sempat mewarnai kami. Hubungan yang telah kami jalani selama hampir 7 tahun membuat kami sadar bahwa kami adalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Egoisme, kemarahan, emosi, ketidaksabaran, serta kebohongan, sering sekali dan berulang kali menerpa bahtera cinta kami, membuat kami timbul tenggelam dalam keraguan apakah betul dialah yang akan menjadi pilihan akhir bagi kami masing – masing. Kami sempat ragu, dengan berbagai keterbatasan manusiawi kami. Apakah kami dapat melayari lautan pernikahan yang begitu luas dan terlihat ganas itu? Apalagi dengan keyakinan bahwa Pernikahan Katolik bersifat tak terceraikan, dan satu untuk selamanya. Mampukah kami akan saling setia hanya dengan dia sampai akhir nanti?

Read the rest of this entry »

World Youth Day 2008 (Hari Orang Muda Sedunia 2008)

May 20, 2008

Orang muda adalah mereka yang akan mewarnai dunia di masa mendatang. Gereja sangat mengerti hal itu, dan gereja menyadari bahwa tantangan zaman bagi orang muda di seluruh dunia jaman ini bukanlah bertamabah ringan , namun justru orang – orang muda zaman ini sangat rentan terhadap serbuan arus globalisasi yang akan menggerus sendi – sendi Kekristentan. Oleh karena itu, gereja sangat menghargai kaum muda yang sampai saat ini masih setia dengan nilai – nilai luhur Kristen di tengan gerusan arus – arus dunia yang begitu deras. Sebuah event multinasional akan di gelar di Sydney dari tanggal 15 – 20 Juli 2008 bagi orang – orang muda di seantero dunia. Acara yang akan dihadiri oleh Bapa Suci Paus Benediktus XVI itu merupakan ajakan, peneguhan, serta penghargaan bagi orang – orang muda di seluruh dunia untuk terus setia mengikuti Jalan Kristus. Yang ingin mengetahui secara lengkap tentang acara tersebut klik aja di http://www.wyd2008.org . Berikut adalah Pesan Bapa Suci Benediktus XVI bagi orang – orang muda di seluruh dunia.

Read the rest of this entry »

Sekolah dan Ujian Nasional : Sebuah Ironi Lembaga Pendidikkan

April 30, 2008

Hari – hari ini siswa – siswa di tingkat akhir di SD, SMP , maupun SMA tengah bergumul dalam perjuangan yang akan menetukan satu tonggak penting dalam hidup mereka. Ujian nasional, ujian yang punya dominasi peran yang sangat tinggi , bahkan absolut itu, telah membuat para siswa – siswa kita berjuang mati – matian untuk lulus. Tentunya kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh para siswa saja. Orang tua yang telah bekerja keras untuk membiayai pendidikkan putra – putri mereka tentu tidak ingin melihat kerja keras mereka sia – sia. Namun, bukan hanya siswa dan orang tua saja yang jantungnya serasa copot menghadapi ujian ini. Sekolah, sebagai lembaga dimana para siswa belajar , mungkin merasakan kepanikkan yang lebih parah dari orang tua maupun siswa sendiri. Hal ini tentunya masuk akal karena lembaga sekolahlah yang akan merasa bangga bila dapat meluluskan siswa mereka seratus persen. Namun lembaga sekolah juga yang akan merasakan pedihnya ketika sebagian besar siswa mereka tidak bisa lolos dalam ujian tersebut.

Read the rest of this entry »

Ekaristi atau yang lain?

April 28, 2008

Cukup kentara terasa bahwa saat – saat ini terdapat kecenderungan yang cukup menonjol di antara kaum muda Katolik dimana mereka merasa “jenuh” dengan Perayaan Ekaristi yang menurut pendapat mereka terasa membosankan dan membuat ngantuk. Seringkali alasan yang mereka ungkapkan berkisar pada seputar lagu – lagu yang membosankan dan tidak menggugah perasaan. Belum lagi bila homili yang diberikan Romo terasa sama keringnya seperti susunan lituginya yang lama dan begitu – begitu saja. Akibatnya, tidak sedikit yang berpaling pada bentuk – bentuk persekutuan doa dengan lagu – lagu rohani populer yang lebih menggugah perasaan serta kotbah yang berapi – api dan tidak membuat ngantuk. Lebih jauh lagi, tidak sedikit juga yang akhirnya tidak kembali ke gereja Katolik setelah diajak teman – teman yang lain untuk bersekutu di tempat lain dimana mereka bisa mengangis, terkekeh – kekeh, menari – nari, ataupun berlari – lari.

Read the rest of this entry »

Finding God in all things

April 21, 2008

Banyak hal yang terjadi dalam hidup, ada kejadian kehidupan yang besar dan menetukan, namun tidak jarang ada juga sisi yang kecil dan terasa tak berarti. Kejadian kehidupan itu datang dan pergi silih berganti mewarnai hidup ini sehingga menjadi dinamis bahkan kadang tidak stabil. Namun, ternyata, dengan refleksi dan keterbukaan hati, satu persatu kejadian dalam hidup ini ternyata punya arti. Bahkan kadang – kadang dengan permenungan yang mendalam, kita bisa menemukan Tuhan dalam berbagai kejadian kehidupan kita. Hal ini, secara tidak sengaja, saya temukan dalam perjalanan hidup saya.

Ketika beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran pekerjaan yang sebetulnya bukan kewajiban utama saya, dua arus besar seperti mewarnai batin saya. Tawaran pekerjaan itu, apabila saya menjawab sanggup, maka konsekuensi yang akan terjadi sangat jelas, yaitu bertambahnya pekerjaan secara luar biasa, tanpa imbalan yang cukup berarti. Namun, di sisi lain, jika saya menyatakan sanggup, kemungkinan besar hal itu akan bisa membawa dampak yang cukup positif bagi orang – orang di sekitar saya. Saat itu, saya tidak tahu pasti apa yang mendorong saya menyatakan sanggup, namun saat ini, saya memaknai hal itu sebagai kehendak Tuhan sendiri, disinilah saya menemukan Tuhan.

Read the rest of this entry »

Visualisasi Penyaliban Yesus St. Theresia Bongsari

March 23, 2008

Janji para Nabi …sudah kugenapi…..Sekarang…kedalam tangan..Mu….Kuserahkan ….nyawaKu……..”Sesudah berucap seperti itupun Yesus kemudian menghembuskan nyawaNya. Sesaat setelah itu kemudian terdengar guncangan hebat yang membuat prajurit – prajurit serta semua orang yang berada disitu termasuk Yohanes, Maria serta beberapa wanita yang bersama dia oleng ke kiri dan ke kanan. Rupanya dunia turut berkabung atas meninggalnya Sang Juru selamat. Maria Magdalena yang terlihat tidak bisa menerima kematian Yesus yang seperti itu kemudian merintih dan berteriak penuh kepedihan mengapa sang Kristus harus meninggal dengan cara demikian. Itulah sebenarnya pertanyaan inti yang ingin dijawab panitia visualisasi mewakili seluruh umat manusia di seluruh alam raya yang ingin bertanya : Mengapa harus mati?

Read the rest of this entry »

St. Fransiskus Xaverius : Sang Bapa Spiritual

March 6, 2008

Sekitar 15 tahun yang lalu aku secara resmi menjadi seorang Katolik dengan sebuah upacara pembaptisan sederhana. Tentu saja sebelum dibaptis, aku ditawari mau memilih siapa sebagai nama pelindungku. Saat itu sebagai seorang anak yang masih ingusan, nama pelindung tidak terlalu menjadi sebuah masalah yang berarti. Namun seiring waktu berlalu, aku menjadi semakin sadar tentang betapa pentingnya mempunyai sebuah nama pelindung yang sesuai dengan spiritualitasku. Aku percaya hanya karena kehendak Tuhanlah dulu aku memilih nama St. Fransiskus Xaverius. Walaupun aku tidak terlalu mempunyai alasan yang baik saat dulu memilih nama tersebut, namun aku sadar sekarang bahwa nama itu telah ditentukan menjadi pelindung, serta pembimbing spiritualitasku.

“Apalah gunanya kalau seorang manusia mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan nyawanya?” Itulah kata – kata yang membuat Fransiskus Xaverius berubah. Kata – kata itu adalah kata – kata St. Ign. Loyola yang mengubah hati serta seluruh kehidupan Fransiskus Xaverius selanjutnya.

Read the rest of this entry »