Pendidikkan berkualitas Untuk Semua?

Pendidikkan Bermutu Untuk Semua. Demikian tema pidato yang dibawakan Mendiknas Bambang Sudibyo pada peringatan Hardiknas 2006 yang lalu, dan tema itu cukup membuat saya tersenyum kecut. Kalau kita memperhatikan lebih jeli saat sekolah-sekolah, terutama swasta, membuka pendaftaran siswa baru bulan-bulan ini, kita akan menemukan dua gejala bertolak belakang yang sama-sama dominan mewarnai wajah pendidikkan kita saat ini. Pertama, pasti kita sudah banyak melihat sekolah yang dalam berbagai koran atau papan “ papan reklame besar di jalan jalan protokol mengiklankan diri mereka dengan berbagai embel “ embel : sekolah internasional, nasonal plus, sekolah bilingual, immersi dan lain sebagainya.

Dengan latar belakang gambar siswa siswi mereka yang tertawa ceria sambil memegang piranti teknologi terkini, ataupun guru bule yang rapi berdasi, iklan tersebut tentu saja tidak lupa mencantumkan berderet – deret fasilitas dari laboratorium ini dan itu, perpustakaan yang menampung sekian ribu buku, 1001 kegiatan ekstrakulikuler, ruang kelas berAC, dan masih banyak fasilitas fasilitas penunjang lain yang membuat kita sampai sampai sulit membedakan mana iklan sekolah dan mana iklan hotel berbintang. Masih ditambah lagi, daftar panjang prestasi di berbagai tingkat, yang seolah ingin menonjolkan superioritas sekolah tersebut di atas para kompetitornya.
Di sisi lain, di depan sebuah sekolah dekat pasar yang nyaris tidak saya kenali sebagai sebuah sekolah, tergantung sebuah spanduk tua dengan warna putihnya yang sudah buthek. Tertulis disitu “Menerima Siswa Baru Tahun Ajaran 2007 – 2008. Dari warna dan tempelan pada angka tahun ajaran, jelaslah bahwa spanduk itu telah setiap tahun, selama bertahun “ tahun, digunakan tanpa pernah diganti. Jangan harapkan ada daftar prestasi yang bisa ditulis sebagai penarik minat para orang tua, daftar fasilitaspun mereka terlalu malu mencantumkannya.
Pangsa pasar kedua macam sekolah itu sudah jelas, dan hampir pasti tidak ada kompetisi diantara keduanya. Dengan SPP perbulan yang berada ratusan ribu di atas UMR para buruh, belum uang gedung dan uang kegiatan ini itu, sekolah yang pertama, melayani anak – anak para pengusaha maupun pejabat kaya yang menginginkan pendidikkan terbaik bagi penerus mereka. Sedang sekolah yang kedua, yang setiap bulan belum pasti dapat menarik SPP dari muridnya, diisi anak – anak yang orangtuanya pun bahkan bingung besuk bisa makan atau tidak.
Dan hasil kesenjangan itu jelas. Sekolah yang kuat semakin banyak menambah pundi – pundi prestasi, dan yang lemah semakin terpuruk sebelum akhirnya sekarat dan mati. Tentu tidak mengherankan jika di sekolah yang karena kekurangan dana, guru Matematikanya didobel oleh guru Bahasa Indonesianya, dan hasilnya tingkat kelulusan UAN mereka 0 %. Tentu juga tidak membuat kita kaget jika di sekolah yang dilengkapi dengan berbagai laboratoruim cangih, siswanya berhasil menang di berbagai perlombaan. Akhirnya, yang benar – benar bisa merasakan pendidikkan bermutu hanyalah segelintir orang yang mampu membayarnya. Sedang bagi mereka yang lemah, miskin , dan tersingkir, pendidikan bermutu masih tetap mimpi yang tidak tahu kapan akan terealisasi. Pendidikkan bermutu yang diharapkan menjadi salah satu pintu sosial untuk menaikkan status kehidupan, ternyata masih dikunci rapat bagi mereka.
Kedua jenis sekolah tersebut kenyataannya telah ada, dan terus hidup dalam dunia pendidikkan kita. Keadaan yang bagai langit dan bumi tersebut, sayangnya, telah lama berlangsung dan terkesan didiamkan saja oleh pemerintah.
Diantara papan reklame dan spanduk tua itu terbentanglah sebuah jarak yang lebar, seperti luka menganga yang semakin terbuka, dan jika berlangsung dalam waktu lama tanpa intervensi yang berarti, kesenjangan pendidikan itu akan berujung pada kesenjangan sosial yang setiap saat bisa saja meledak menjadi ancaman disintegrasi bangsa.
Tentu kita masih ingat sebuah iklan harian nasional di TV dimana seorang pembawa acara terkenal dalam penghujung iklan itu mengatakan …dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan. Kemiskinan akan menghasilkan generasi yang bodoh, dan generasi yang bodoh akan terus menjadi miskin. Bisakah lingkaran setan ini terputus?

Tags:

One Response to “Pendidikkan berkualitas Untuk Semua?”

  1. sandy Says:

    hahaha…agree..

    harusnya ditambahin iklnannya bro,’tapi orang miskin belum berarti bodoh..’ hahaha…

    prihatin juga sama indonesia..kasihan rakyatnya..abez pemerintah kaya gitu sihh…tau ga Sujiono Timan, yang korupsi sktr $128 million US…geez, anaknya sekolah di singapore, pake ferrari, rumahnya gede bgt di sentosa island..sedangkan kadang2 kita liat anak2 yg sekolah di kampung kadang ada yg ga pake sepatu atau sandal karena ga punya uang untuk beli..how then?

    memang hukum keseimbangan itu selalu ada..ada yg kaya pasti ada yg miskin..tapi kalau namanya nyuri..apalagi nyuri uang negara, uang rakyat..aduh..kok masih bisa ya hidup mewah di tengah2 rakyat yg sengsara dan agak sengsara..gmn ya negri ini?

    but i support Indonesia..krn kita telah dilahirkan di bumi pertiwi ini..
    let’s do the best for our land bro..

    figure out what i suggest u bout social things in our church..

    all the best

    sandy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: