Ekaristi atau yang lain?

Cukup kentara terasa bahwa saat – saat ini terdapat kecenderungan yang cukup menonjol di antara kaum muda Katolik dimana mereka merasa “jenuh” dengan Perayaan Ekaristi yang menurut pendapat mereka terasa membosankan dan membuat ngantuk. Seringkali alasan yang mereka ungkapkan berkisar pada seputar lagu – lagu yang membosankan dan tidak menggugah perasaan. Belum lagi bila homili yang diberikan Romo terasa sama keringnya seperti susunan lituginya yang lama dan begitu – begitu saja. Akibatnya, tidak sedikit yang berpaling pada bentuk – bentuk persekutuan doa dengan lagu – lagu rohani populer yang lebih menggugah perasaan serta kotbah yang berapi – api dan tidak membuat ngantuk. Lebih jauh lagi, tidak sedikit juga yang akhirnya tidak kembali ke gereja Katolik setelah diajak teman – teman yang lain untuk bersekutu di tempat lain dimana mereka bisa mengangis, terkekeh – kekeh, menari – nari, ataupun berlari – lari.

Bukanlah menjadi tujuan tulisan ini untuk melarang ataupun memberi cap negatif terhadap segala bentuk persekutuan – persekutuan doa yang berkembang, namun melihat berbagai gejala diatas, tulisan ini mencoba untuk menggali kembali salah satu kekayaan terbesar Gereja Katolik, yaitu Ekaristi. Penulis hanya merasa sungguh sayang melihat ada orang – orang yang berpindah dari Gereja Katolik hanya karena tertarik dengan lagu – lagu pop rohani, atau kotbah yang membuat terpingkal – pingkal tanpa menyadari dan mengimani bahwa di tempat mereka sendiri ada sebuah harta karun yang menjadi nafas dan jantung kehidupan gereja, yaitu Yesus yang hadir sendiri dalam Ekaristi.

Ekaristi menjadi harta terbesar bagi gereja karena didalam Ekaristi itulah umat beriman meyakini kehadiran Kristus yang nyata. Paus Yohanes Paulus II mengatalan bahwa Ekaristi adalah jantung dari gereja, dimana kehidupan Ekaristi tumbuh dengan subur disana kehidupan gereja akan berkembang. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan pengertian dari gereja – gereja lain yang hanya mengakui bahwa ajaran Yesus tentang hal ini hanya merupakan perlambangan, tidak lebih. Jadi, tidak mengherankan apabila yang menjadi tekanan dalam gereja – gereja lain bukanlah Tuhan sendiri yang hadir dalam Ekaristi. Selanjutnya kita akan melihat keyakinan Gereja Katolik tersebut dari Alkitab.

Yesus bersabda : “Aku ini roti hidup yang turun dari surga. Barangsiapa makan roti ini akan hidup selama – lamanya. Dan roti yang akan Kuberikan adalah tubuhKu untuk kehidupan dunia”. Lalu orang – orang Yahudi menggerutu, katanya “ Masakan orang ini memberikan kita makan TubuhNya. Saba Yesus “ Sesungghunya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak makan tubuh Putera Mausia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup. Barangsiapa makan tubuhKu dan minum darahKu dia mempunyai hidup abadi., dan Aku akan membangkitkan dia pada hari kiamat. Karena tubuhKu adalah benar – benar makanan dan darahKu adalah benar – Benar minuman. Barangsiapa makan tubuhKu dan minum darahKu, dia akan tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia. (Yohanes 6 : 51 – 56). Selanjutnya, janji Yesus tersebut dipenuhiNya saat hari penghabisan hidupNya, yaitu pada pesta perjamuan terakhir. Yesus mengambil roti dan bersabda “Terimalah dan makanlah; inilah TubuhKu, yang dikurbankan bagiMu. Lu Ia mengambil piala berisi anggur dan bersabda ; Terimalah dan minumlah; inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bvagiMMu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. (Luk 22 : 19 – 20, 1 Kor 11 : 23 – 25).

Dalam petikkan Injil Yohanes itu (Currie 2006) Yesus mengajarkan bahwa supaya kita memiliki hidup yang kekal, kita harus “ memakan tubuhNya”, kalau kita perhatikan lebih teliti dari Yoh 6 : 26 – 59, kita mengetahui bahwa ungkapan itu atau variasinya diulang sebanyak enam kali. Empat dari enam kali munculnya ungkapan tersebut menggunakan kata Yunani yang sangat teknis, yang dapat diterjemahkan “mengunyah”. Kata ini tidak pernah digunakan secara simbolis. Gereja Katolik tidak mengajarkan hal ini sebagai sesuatu yang simbolis. Ajaran ini memang sangat keraas seperti Yoh 6 : 52 menerangkan bahwa saat itu banyak orang Yahudi yang saling bersungut – sungut. Yesus tahu bahwa hal itu, kenyataan bahwa untuk hidup abadi kita perlu memakan TubuhNya, adalah satu hal yang cukup keras . (Yoh 6 : 61). Akibat dari itu adalah banyak murid – murid yang mengundurkan diri dan tiak lagi mengkuti Dia. (Yoh 6 : 66). Ini adalah satu – satunya teks dalam Alkitab tentang murid – murid yang meniggalkan Yesus karena masalah doktrinal. Orang – orang Yahudi tersebut tidak akan begitu marah dan dipermalukan oleh sesuatu yang hanya merupakan symbol. Yesuspun tentu akan dengan mudah menjelaskan bahwa kata – kataNya hanyalah kiasan, kalau itu memang kiasan untuk menghentikan orang – orang itu berpaling dariNya. Nyatanya, Yesus tidak pernah meralat ucapanNya yang keras itu, sehingga tidak mungkin kata – kata Yesus itu hanya merupakan kiasan saja. Seperti juga tidak mungkin Kehadiran Kristus dalam Ekaristi hanya kiasan atau / simbol saja.

Kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi ini juga dikuatkan oleh Paulus dalam suratNya pada jemaat di Korintus 11 : 27 – 32. Pengakuan bahwa kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi adalah satu – satuNya cara yang bertanggungjawab dalam menerangkan asumsinya dalam surat tersebut. Demikianlah petikkan ayat itu. “ Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia “.

Seandainya perayaan itu dilakukan hanya untuk memperingati bagaimana mungkin seseorang merasa bersalah bila belum mempersiapkan diri menyambut Tubuh dan darah Tuhan dalam perayaan itu. Gereja Katolik menyatakan bahwa makan roti dan minum dari cawan bukan hanya sebuah peringatan. Itu adalah benar – beanr Tuhan sendiri yang datang kepada kita masing – masing secara pribadi.

Apabila sekarang kita tahu bahwa dalam Ekaristi, Yesus sendirilah yang datang, apakah kita akan melewatkan hal itu untuk sekedar memuaskan telinga – telinga kita dengan lagu – lagu pop maupun rock rohani? Atau ajaran – ajaran dalam kotbah – kotbah yang memuaskan kedagingan kita? Jawabannya saya kembalikan ke anda. Sebagai akhir tulisan ini, saya ingin mengutip II Timotius 4 yang dengan tepat menbuatkan kejadian yang saat ini gejala dan kecenderungannya semakin jelas.

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”. Berkah Dalem.

Tags: ,

2 Responses to “Ekaristi atau yang lain?”

  1. ratna ariani Says:

    Betul sekali saya setuju bahwa memang perlu sekali mensosialisasikan pemahaman ekaristi yang sebenarnya khususnya bagi kaum muda.
    Saya bersyukur masih ada orang muda yang peduli akan nilai luhur ekaristi. Semoga semangat ini terus dipelihara dan ditularkan kemana-mana.

    Salam kenal dari Jakarta.AMDG -RA

  2. mingtek Says:

    Sangat setuju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: