Sekolah dan Ujian Nasional : Sebuah Ironi Lembaga Pendidikkan

Hari – hari ini siswa – siswa di tingkat akhir di SD, SMP , maupun SMA tengah bergumul dalam perjuangan yang akan menetukan satu tonggak penting dalam hidup mereka. Ujian nasional, ujian yang punya dominasi peran yang sangat tinggi , bahkan absolut itu, telah membuat para siswa – siswa kita berjuang mati – matian untuk lulus. Tentunya kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh para siswa saja. Orang tua yang telah bekerja keras untuk membiayai pendidikkan putra – putri mereka tentu tidak ingin melihat kerja keras mereka sia – sia. Namun, bukan hanya siswa dan orang tua saja yang jantungnya serasa copot menghadapi ujian ini. Sekolah, sebagai lembaga dimana para siswa belajar , mungkin merasakan kepanikkan yang lebih parah dari orang tua maupun siswa sendiri. Hal ini tentunya masuk akal karena lembaga sekolahlah yang akan merasa bangga bila dapat meluluskan siswa mereka seratus persen. Namun lembaga sekolah juga yang akan merasakan pedihnya ketika sebagian besar siswa mereka tidak bisa lolos dalam ujian tersebut.

Berbagai upaya tentunya dilakukan sekolah untuk mempersiapkan siswa – siswa mereka menghadapi ujian maut itu. Salah satunya adalah usaha di setiap daerah untuk mengadakan try out beberapa kali sebelum ujian nasional dilaksanakan. Dari hasil try out itulah kemudian sekolah tahu kira – kira seberapa siapkah siswa mereka menghadapi ujian nasional itu. Tentu ada sekolah, baik swasta maupun negeri yang dengan bangga menyaksikan peringkat sekolah mereka yang membanggakan. Namun, di sisi lain ada juga sekolah yang mengelus dada menyaksikan sebagian besar atau malah semua murid mereka berada dalam dearah tidak lulus. Dengan kondisi sekolah yang demikian ada beberapa sekolah yang akhirnya melakukan berbagai upaya untuk mensukseskan Ujian nasional di sekolah mereka. Namun sayang, usaha yang dilakukan untuk meluluskan siswa – siswa tersebut tidak semuanya usaha yang pantas dilakukan oleh sebuah sekolah.Kasus – kasus ini menjadi serentetan ironi di dunia pendidikkan kita :

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/26/Utama/ut02.htm (Soal sulit, guru curang)

http://www.antara.co.id/arc/2008/4/23/beri-kunci-jawaban-kepsek-sma-ditahan/ (Kepsek beri jawaban)

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/23/19050872/guru.diintimidasi.tidak.bongkar.kebocoran.un

http://www.suaramerdeka.com/harian/0606/01/ban02.htm

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/24/00174178/wc.sekolah.mendadak.jadi.lokasi.favorit.muri

“Ada seorang kepala sekolah yang sengaja membagikan jawaban kepada siswanya, ada guru yang menulis kunci di toilet bagi murid – muridnya, ada 5 sekolah yang dengan sepakat setuju untuk membagi kunci jawaban bagi semua sisw mereka, ada pengawas yang diintimidasi karena mencoba menyuarakan kecurangan”

Ternyata inilah yang menurut pendapat penulis menjadi salah satu akar carut marutnya keadaan di negara kita ini. Adalah sebuah ironi yang sungguh pedih ketika sebuah lembaga yang seharusnya menjadi tempat persemaian nilai – nilai luhur bagi para siswa kemudian berubah menjadi tempat siswa belajar untuk curang, belajar untuk berbohong. Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya kalau generasi yang dihasilkan dari budaya curang itu tumbuh nantinya menjadi generasi penerus bangsa kita. Hasilnya tentu keadaan bangsa yang semakin terpuruk oleh korupsi para pejabat – pejabat yang memang sejak dari sekolah dididik untuk curang dan bohong. Dunia memang sudah terbalik ;guru yang seharusnya mengajar kejujuran malah menunjukkan bagaimana untuk curang, sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan akhlak, malah mengajari cara berbohong. Kehidupan bangsa ini tidak akan jadi membaik bila dunia pendidikkan tidak kungjung menunjukkan perbaikkan hasil pendidikkan. Akhirnya, semoga dengan doa kita berharap bahwa di tengah kegilaan dunia ini, dunia pendidikkan akan mampu menunjukkan perbaikkannya. Semoga. Berkah Dalem.

Tags:

5 Responses to “Sekolah dan Ujian Nasional : Sebuah Ironi Lembaga Pendidikkan”

  1. Imelda Says:

    Saya sudah seringkali melihat dan menelaah bahwa tidak ada gunanya ngotot belajar teori tanpa bisa mempraktekkannya. Seperti halnya di sini, anak-anak dijadikan eksperimen perubahan kurikulum dan test-test yang justru tidak dapat mengembangkan talenta masing-masing anak tsb. Tidak salah bila banyak anak dan orang tua mencari jalan utk belajar diluar pendidikan formal yang ada dan tujuan akhirnya adalah anak tsb bisa mandiri dalam hidup walaupun tdk berpendidikan formal yang tinggi. Walaupun tidak kurang juga banyak yang masih menjunjung tinggi ijazah kelulusan dari satu atau lebih perguruan tinggi atau sekolah bergensi sebagai modal mencari nafkah di kemudian hari walau hasilnya kadang kalah dengan mereka ;yang berpendidikan informal. Saya pikir utk anak-anak usia dini dan pelajar SD, kurikulum yang sudah ada tdk perlu dirubah-rubah tapi harus dimantapkan dengan cara menghilangkan yg kurang perlu dan menambah yang up to date sesuai dengan perkembangan jaman. Kalaulah kita ingin bangsa ini maju dan berkembang, pendidikan dasarlah penentunya, bila basic ny;a kuat niscaya perkembangan selanjutnya akan lebih mudah bahkan tidak menutup kemungkinan akan lahir orang-orang berbakat dan kreatif tanpa perlu dicari2.

  2. Sajna Says:

    Memang pendidikan di negara kita ini seperti orang buta di kegelapan tanpa tongkat yang seperti kehilangan arah mau melangkah kemana. Di satu sisi petinggi pendidikkan di Indonesia ingin mencapai target hasil pendidikan yang “menyerupai pendidikkan di negara Barat”. Di sisi lain, secara umum kualitas para pekerja lapangan pendidikkan tidak bisa diajak ke arah itu. Belum lagi kultur orang Indonesia yang santai, malas – malasan, bisa enak tanpa kerja, bisa kaya tanpa usaha, sedikit banyak menggerogoti sendi – sendi pendidikkan itu sendiri. Akibatnya adalah seperti yang saya tulis di atas. Saya setuju dengan Imelda bahwa pendidikkan adalah dasar ini untuk maju, namun saya kurang setuju bila yang difokuskan adalah pendidikkan dasar. Semua lini dan aspek pendidikkan kita perlu ditangani lebih serius dan terlebih, kultur orang Indonesia yang jelek harus dihapus. Thanks atas commentnya. Mau comment di topik lain? Saya Tunggu Tuhan Memberkati.

  3. abethseane Says:

    pendidikan yang membebaskan dari Paulo Freire dalam konteks negara dunia ketiga, menjadi alternatif ide revolusi pendidikan dan kemajuan berpikir manusia yang rindu ‘pembebasan’.dari Adam sampai Yesus digemakan tawaran pembebasan dalam arti luas, itu inti pesan agama.Sebaliknya dalam pendidikan pembebasan yang kutangkap adalah : beri alat berpikir, seluasnya, dari alat sederhana sampai yang canggih, tapi biarkan siswa mengolah bahan dan pergumulan zamannya sendiri.
    Bejo yang anak tukang becak meraih cumlaude,bahkan s2 dengan gemilang.Pulang kerumah,tetangganya masih miskin dan berkubang dalam kebodohan,primordialis, inferior dan tak terhargai ke’mengadaannya’.Pendidikan inside, insight atau oversight. Untuk apa dan untuk siapa?Perubahan nyaris tak dirasakan oleh lingkungan terdekat dari cendikiawan,teknokrat atau birokrat yang ‘ter-edukasi’ yang terangkkat ke derajat mulia manusia aristokrat. Struktur ini bertahan, dan tetap menutup pintu untuk pendatang baru. pendidikan adalah hegemoni aristokrasi ?maka anak Bejo yang ikut mendorong becaknya, dan menyapa tetangganya, adalah hasil didikan kebijaksaan alami yang ‘membebaskan serta mencerahkan. Selamat mendidik

  4. yayan subangkit S.Pd Says:

    kapan pemerintah memperhatikan nasib guru honorer..yang seolah tak tentu nasibnya, jadi no ke 2 setelah PNS..tapi kalau di lihat tugas dan tanggung jawabnya sama seperti PNS..bahkan ada yang lebih..ikut tes CPNS susah sekali mulai dari aturannya..sampai ada isu ada titippan para pejabat jadi mana yang benar..

  5. Sajna Says:

    Setuju bung Yayan!!!!! Saya, walaupun adalah juga seorang guru PNS, tidak habis pikir kenapa ada pembedaan seperti itu!!! Saya berdoa semoga nasib guru honorer akan terus diperbaiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: