Duc in Altum : Refleksi Perjalanan Kami

Ketika awal kami memutuskan untuk menikah, ada perasaan yang kurang lebih mirip dengan apa yang dirasakan oleh para Rasul saat Yesus menyuruh mereka untuk bertolak ke tempat yang dalam dan meneberkan jala mereka (Luk 5:4). Keputus asan karena bekerja tanpa tangkapan sepanjang malam, membuat mereka meragukan perintah Tuhan tersebut.
Keraguan semacam itu juga sempat mewarnai kami. Hubungan yang telah kami jalani selama hampir 7 tahun membuat kami sadar bahwa kami adalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Egoisme, kemarahan, emosi, ketidaksabaran, serta kebohongan, sering sekali dan berulang kali menerpa bahtera cinta kami, membuat kami timbul tenggelam dalam keraguan apakah betul dialah yang akan menjadi pilihan akhir bagi kami masing – masing. Kami sempat ragu, dengan berbagai keterbatasan manusiawi kami. Apakah kami dapat melayari lautan pernikahan yang begitu luas dan terlihat ganas itu? Apalagi dengan keyakinan bahwa Pernikahan Katolik bersifat tak terceraikan, dan satu untuk selamanya. Mampukah kami akan saling setia hanya dengan dia sampai akhir nanti?


Perintah Yesus bagi para murid untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala (Luk 5:4), kami imani sebagai panggilan bagi kami, Anjas dan Lala, untuk mengarahkan bahtera cinta kami ke tempat yang lebih dalam, yakni pernikahan. Seperti Simon (Luk 5:5) yang awalnya ragu, namun akhirnya mau juga melaksanakan perintah Yesus itu, kami juga pun akhirnya melepaskan keraguan kami dan bersiap bertolak ke bahtera pernikahan. Keyakinan kami untuk melangkah, seperti juga keyakinan Simon, didasari pada iman akan Yesus. Walaupun berulang kali diterpa topan dan ombak bergelombang selama 7 tahun masa pacaran kami yang penuh dengan deru dan debu, namun toh, akhirnya kami berdua masih bertahan. Dan kami imani bahwa kemampuan bertahan kami selama 7 tahun itu, bukanlah karena kekuatan kami sendiri, Namun tak lain karena Tuhan Yesus sendiri.
Untuk itulah, saat Tuhan Yesus yang sama, memanggil kami untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam, yakni pernikahan, seperti Simon, kamipun menjawab “YA” terhadap panggilan itu.
Walau tempat yang lebih dalam, tentunya mengandung resiko yang lebih besar, namun karena kami mengimani bahwa Tuhan Yesuslah yang memanggil kami, maka kamipun mengimani bahwa Dialah yang akan membimbing kami. Seperti para murid yang akhirnya mendapat hasil berlimpah (Luk 5: 6), kami juga mengimani bahwa nanti, dengan berkat Tuhan, kamipun akan meraih berkat berlimpah dengan pernikahan kami.
Seperti Simon Petrus yang menyadari bahwa dia adalah manusia berdosa (Luk 5: 8), kamipun menyadari keterbatasan kami sebagai manusia biasa yang penuh dosa. Namun, seperti Yesus yang tetap mengasihi Simon Petrus, kamipun mengimani juga bahwa Yesus akan tetap mencintai, dan selalu membimbing kami melewati lautan pernikahan di depan kami.
Dengan iman, harapan, serta kasih seperti itulah, tanggal 6 Desember 2009 nanti kami berani melangkah ke depan altar Tuhan untuk berjanji setia, sebagai suami istri, sampai akhir hayat memisahkan kami. Tiada hal lain yang kami minta dari teman – teman selain doa yang tulus bagi kami berdua agar senantiasa diberkati dan dilindungi oleh Tuhan. Semoga Tuhan selalu beserta saya dan teman – teman semua.

2 Responses to “Duc in Altum : Refleksi Perjalanan Kami”

  1. noegroho Says:

    sangat mengispirasi untuk hubungan aku mas… terima kasih

  2. Sajna Says:

    Ini dulu bacaan Injil pas sakramen pernikahanku………….nggak ada hubungan langsung sama pernikahan sih, tapi makna di dalamnya yang kena banget……………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: