Curhat Bapak Pemulung

 

Beberapa kali aku memandang bapak itu sambil meneguk air di botol aqua snack dari panitia.    Ia adalah seorang tua dengan wajahnya yang kusut dibawah terik mentari yang menyengat. Hingar bingar musik dangdut dengan liukan mengundang sang biduan tidak dihiraukannya.  Tanpa kenal lelah dipungutinya botol-botol aqua kosong yang dibuang pemiliknya.  Nafasku masih tersengal – sengal, dan kakiku masih pegal sehabis percobaan gagal mengejar pengendara Helios yang belakangan aku tahu adalah atlet yang baru pulang dari PON itu.  Sungguh tak kuduga bahwa peserta sepeda santai siang ini membludak,  makin tipis saja harapan untuk memboyong salah satu hadiah itu. Berharapnya sih dapet salah satu motor yang dipajang dipanggung itu, tapi…mimpi kali ye????

Perhatianku sejenak terlupakan dari sang bapak ketika si biduan dangdut mulai mendendangkan “ABG TUA”, masih dengan goyangan yang membuat ratusan goweser asyik melenggokan tubuh mereka.  Sedang asyik menikmati goyangan itu tiba – tiba.

“Botole saget kula suwun mas?” Tanya si Bapak. Aku keget, langsung aku teguk habis air dalam botol itu dan kuserahkan kepada si Bapak. “Matur Nuwun mas”. Jawabnya singkat.  Aku tersenyum, namun tidak menjawab. “Nunut ngaso mriki nggih mas?”  lanjutnya. Lagi – lagi aku hanya mengangguk, namun, tidak kujawab. Tempat yang aku duduki kebetulan memang agak rindang berkat tenda besar yang dipasang panitia. Dia duduk disebelahku. Aku lirik sebungkus roti di kardus snack yang belum sempat aku makan, dan kusodorkan saja padanya karena aku masih kenyang berkat bekal dari istri yang kusantap pagi tadi.

“Mboten mas” tolaknya.

“ Monggo, mboten napa napa kok pak. Damel sangu mangkeh” paksaku.

Akhirnya diterimanya juga roti itu.

“Dalemipun pundi pak?” tanyaku berlagak ramah.

“Perbalan mas, caket margi ageng”.  Jawabnya pendek. Namun jawaban pendek itu segera disambung dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup membuatku kerepotan. Percakapan kami berlangsung dalam Bahasa Jawa, namun biar pembaca yang dari seluruh Indonesia tahu artinya, aku terjemahkan saja.

“Mas sendiri rumahnya dimana?”

“Saya dari Salatiga pak, tapi istri saya rumahnya Semarang sini”

“Oh, lha mas kerja dimana?”

“Saya guru pak, ngajar di SMA”.

Ketika aku mengucapkan kata SMA, air mukanya tiba – tiba berubah.

“Ada apa pak?” tanyaku. Dia tidak menjawab, namun tiba – tiba matanya berkaca – kaca dan setetes air bening menetes dari mata tuanya.  Sebenarnya aku hanya penasaran kenapa dia tiba – tiba menangis, namun kata – kata bapak itu selanjutnya sungguh di luar dugaanku.

“Saya juga punya anak mas, masih SMA kelas dua. Dia anak satu – satunya”.

“Perempuan atau laki – laki pak?”

“Perempuan. Sebenarnya, dia harapan saya dan istri tapi…….”

“Ada apa pak? Dia meninggal?” tanyaku keheranan.

Dia menggelengkan kepala dan menjawab lirih.

“Dia hamil mas”.  Jawaban itu membuatku bergetar.

“sejak dia kecil, Saya dan istri tiap hari mengumpulkan sampah ini untuk biaya sekolahnya.  Kami ingin dia jadi anak yang nasibnya beda dari kami. Tapi dia…….malah….gak nurut sama orang tua”

Kata – kata bapak itu selanjutnya tidak terlalu menempel di memoriku, karena pikiranku langsung terbang membayangkan nasib beberapa muridku yang harus mengalami nasib yang sama.

Aku membayangkan hati orang tua merekapun pasti sama hancurnya seperti hati bapak ini. Anak yang mereka harapkan, yang dibesarkan dengan penuh cucuran keringat dan air mata, terpaksa harus melepas masa depan dan mengalami sesuatu yang seharusnya belum mereka alami.   Harapan mereka untuk melihat anak mereka bahagia meraih kesuksesan, hilang sudah tertutup oleh kenyataan pahit yang akan mereka alami.

Percakapanku dengan bapak itu masih berlanjut, namun dari sorot matanya, kehancuran hatinya nampak semakin jelas. Akhirnya, bapak itu berdiri.

“Terima kasih mas rotinya”

“Lho, bapak mau kemana?”

“Sudah cukup istirahatnya, saya mau ngambilin botol aqua lagi………..”

Aku hanya bisa mengangguk pelan, membayangkan bapak itu yang sudah bekerja keras memunguti sampah selama puluhan tahun, harus terus melakukan pekerjaan itu. Untuk dirinya, untuk istrinya, dan tentu untuk anak, dan calon cucunya………………………….

Aku hanya bisa melafalkan doa dalam hati, semoga tidak ada lagi anak yang meremukkan hati orang tuanya seperti ini, semoga semua anak selalu berpikir sebelum bertindak, dan semoga tidak ada lagi anak yang merusak masa depannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: