Tendangan Upacara

“Bendera, … Siap”

“Kepada, Sang Merah Putih, hormat graaaak”

Dan suasanapun menjadi hening, lagu Indonesia Raya mengalun cukup keras dan kompak,tangan-tanganpun lantas terangkat memberi hormat.Akupun menghormat, dan tatapanku mengikuti bendera yang perlahan naik seirama dengan tarikkan harmonis para pengibar. Namun, tiba – tiba di  barisan kelas XI, ada dua anak tampak terkekeh tertawa –tawa, tanpa mengangkat tangan tanda hormat. Emosiku menggelegak.  Aku hampiri mereka dari belakang, dan secepat yang aku bisa lakukan, kulayangkan tendanganku mengenai kaki – kaki mereka.Mereka terhuyung hampir jatuh, dan berbalik, namun ketika mengetahui siapa yang menendang, mereka segera berbalik lagi, mulut mereka segera terkunci dan tangan kanan mereka segera terangkat memberi hormat.

Sikapku berlebihan?Mungkin.Namun,……………

Kalau sedang berkunjung ke makam kakekku di Tuntang, ada sebuah makam yang selalu menarik perhatianku.Makam itu selalu bersih, dan diantara dua nisannya ada hiasan dari seng berbentuk bambu runcing berhiaskan bendera merah putih. Kata Bapak, orang yang terbaring disitu dulunya adalah seorang pejuang. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat seseorang berdoa di situ.Namun, hari itu, aku melihat seorang kakek yang berjongkok di depan makam  sambil mulutnya komat – kamit membaca doa. Wajah kakek itu sudah berkerut, namun dia masih bergerak cukup lincah ketika menaburkan bunga dan menyapu makam itu.Entah kenapa, wajah kakek itu terekam kuat diingatanku.Dan ketika aku melihat wajah itu lagi beberapa minggu setelahnya, di bagian bawah Pasar Salatiga, seketika itu juga aku ingat, bahwa dia adalah kakek di makam pejuang itu.

Aku mendekatinya.Dia berhenti sejenak dari pekerjaannya memasang kancing di sebuah baju seragam SMP dan bertanya.

“Ada yang bisa dibantu?”

“Pak, bisa motong ini, agak kepanjangan. ” Aku keluarkan celana seragam yang baru aku beli, namun  terlalu panjang.

“Di potong seberapa?”

“Panjangnya seperti ini” kataku sambil mengeluarkan satu contoh celanaku yang pas.Dia mengangguk pelan.

“Bisa ditunggu pak?”Lagi – lagi dia mengangguk pelan tanpa menjawab dan meneruskan memasang kancing di baju SMP itu.

“Bapak rumahnya di Tuntang ya?” tanyaku.Tanpa berhenti dari pekerjaannya, dia menggeleng pelan.

“Saya rumahnya Banyubiru mas”.

“Kok saya pernah lihat bapak di makam di daerah Tuntang sebelum lebaran kemarin”.

Kali ini bapak itu berhenti dari pekerjaannya dan memandang ke arahku sambil tersenyum.

“Oh itu, saya ke makam pakdhe saya”.

“Pakdhenya pejuang ya pak?Bapak juga dulunya pejuang?” cecarku.

Dia menggeleng.

“Pakdhe saya yang pejuang, saya bukan”.

Sorot matanya kemudian berubah tajam, ketika dengan bersemangat iamenceritakan masa lalunya.  Bapak itu masih mengingat dengan detail, detik – detik saat ibunya di ambil paksa dari rumah oleh tentara Jepang.Ayahnya berusaha menghalangi, namun akhirnya peluru dari senapan tentara Jepang yang akhirnya menembus dadanya. Sejak itu ia diasuh oleh pakdhenya, sementara ibunya sampai sekarangpun tidak pernah kembali lagi, dan tidak ada yang tahu kabar beritanya. Jaman Agresi Militer Belanda,  pakdhenya bersama 4  temannya  diminta pergi ke Surabaya untuk ikut membantu pejuang disana. Beberapa tahun kemudian akhirnya pakdhenya pulang hanya dengan 2 temannya, dan satu lengan. Mortir Belanda membuatnya cacat seumur hidup, dan kehilangan dua sahabatnya yang harus gugur dalam sebuah penyergapan.Setelah jaman perjuangan, pakdhenya akhirnya  mendapat pekerjaan membantu di Jawatan Kereta Api sampai saat beliau meninggal.

Dalam perjalanan pulang, cerita Bapak itu masih membekas di benakku. Aku sadar cerita itu hanya satu dari sekian banyak cerita yang mungkin sampai sekarang tidak terceritakan, karena sang empunya cerita sudah tidak lagi sanggup bercerita. Tidak terbilang sudah berapa nyawa yang harus melayang, berapa orang yang harus kehilangan anggota tubuhnya, sampai anggota keluarganya, bahkan nyawanya sendiri, untuk mempertahankan agar negeri ini tetap berdiri, agar bendera merah putih tetap berkibar, sehingga kita yang hidup di jaman ini, bisa dengan nyaman menikmati alam kemerdekaan.

Di akhir upacara, aku meminta kedua anak  tersebut untuk tinggal. Aku bertanya apa mereka tahu alasanku menendang mereka dan aku menceritakan sedikit pertemuanku dengan Bapak tadi, dan cerita tentang pakdhenya.

Aku harap mereka, dan yang lain mengerti, mengapa saat upacara, sama sekali bukanlah saat untuk bercanda. Ada banyak nyawa yang membela agar sang Dwi Warna tetap mengangkasa, dan sudah sepantasnyalah kitamenaruh hormat pada mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: